Senin, 06 Januari 2014

Kitab Sirojul Ma'arif



Ulasan tentang kitab tafsir sirojul ma’arif.


Latar belakang
Kitab sirojul ma’arif di susun oleh syaikh Muhammad syaikh siroj al arif  inbu syafi’I setelah beliau mendapat  wejangan dari dari nabi khidhir As, yang bertepatan pada hari jum’at pahing tanggal 11 sya’ban tahun 1398 hijriyah.




KATA PENGANTAR

       Alhamdulillahi robbil alamin wa shalatu wa salam ala asrofil mursalin wa ala aalihi washokh bihi wasallim ajma’iin. Ashadu allailaha illalloh wakhdahu la syariikalah wa ashadu anna sayyidina muhammadan abduhu warosuluh amma ba’du.


BAB I

Iman, tauhid, islam

Hadits:
   
       wayajibu ala kulli muslimin wamuslimatin tsalasatal asya’ akhaduhal iman watsaniha tauhid, watsalisuhal islam. Wasyartil iman bil ilmin liannal iman bila ilmin lam tasikh imanuhu.

       Artinya; yang wajib bagi orang muslimin dan muslimat itu ada 3. Yang pertama adalah iman’ taukhid, islam.

       Syarat orang beriman itu harus di dasari dengan ilmu, sebab orang yang beriman tetapi tidak di dasari dengan ilmu maka imannya tidak sah (tertolak).

Seperti yang di jelaskan dalam hadits rosul:

   Wakulluman bi ghoirin ilmin ya’malu a’maluhu mardudatun la tukhbalu.
Artinya: seseorang yang melakukan amal dan tidak di dasari ilmu, maka amalnya akan di tolak (tidak di terima) oleh alloh

Ilmu iman ada empat:
  Syariat, thoriqoh, hakikat, ma’rifat.

Ilmu syariat adalah ilmu yang mengetahui asal mula jasad dan mengetahui tingkah laku jasad, terhadap sesuatu yang d perintahkan oleh allah kepada jasad.

Hadits: ma abidalloh bi syaiin afdholu illa min fikhin fi diin.

Artinya: ora ono sinembah sopo alloh kelawan coro pye wae ko’ biso utomo kejobo kang ngaggo pengertian agomo.

Contohnya:  kita melakukan shalat, di dalam shalat itu mempunyai sebuah aturan-aturan yang berlaku baik dalam hal sebelum melakukan shalat, di dalam shalat dan setelah melakukan shalat. Orang yang akan melakukan shalat di wajibkan memakai pakaian yang suci dari kotoran/najis, dan di waktu shalat di tuntut untuk selalu berdzikir dan ingat kepada alloh. Ini adalah sebuah aturan yang berlaku di dalam melaksanakan shalat

Contohnya: di saat kita bekerja, kita di tuntut untuk mematuhi aturan yang berlaku untuk kelancaran dan keselamatan dalam bekerja.
Dari contoh diatas bias di ambil kesimpulan segala sesuatu itu memiliki sebuah aturan dan aturan tersebut harus di taati apabila kita melaksanakannya. Seperti yang di contohkan oleh nabi bahwa sesuatu yang bersifat dhohir itu adalah syariat dan itu itu harus mengerti ilmu syara’. Dan caranya adalah harus mengetahui asal kejadian jasad, cara untuk mengetahui asal kejadian jasad harus mengetahui nurrulloh dan nur Muhammad, untuk mengetahui nur alloh dan nur Muhammad harus mengettahui dzat sejati. Karena asal mula adanya syariat itu adalah dari dzat sejati (dzat alloh).

Bab II

Ilmu thoriqot.

Ilmu thoriqot adalah ilmu mengetahui tentang ruh, asal mula ruh dan aktifitas ruh dan kejadian ruh. Juga harus mengetahui asal mula nafas. Aktifitas dan terjadinya nafas.
Cara untuk mengetahui asal muasal ruh dan nafas itu harus mengetahui anasir ruh dan anasir khaq. Di saat sudah mengetahui anasir ruh dan anasir khaq, maka akan mengetahui bilangan ruh dan bilangan nafas, aktifitas  ruh dan aktifitas nafas, sedangkan bilangan ruh itu ada tujuh diantaranya: ruh kuddus,ruh jasmani, ruh rohmani, ruh robbani, ruh sirri, ruh nurani, ruh sirmani, ruh ruhani. Semua ruh tersebut berasal dari huruf HA lafadz ALLOH yang di namakan alif tansur, di saat belum nyata alif tansur masih berwujud Ha, yo hu, bunyinya yah hu(………..).
Setelah menjadi alif tansur bisa di sebut manugso majazi atau bias di sebut manuk majazi. Yaitu benih yang bisa menumbuhkan dunia beserta isinya, dan juga menumbuhkan jasad atau jasmani. Tetapi harus di mengerti sebenarnya dunia beserta isinya itu tidak bias bergerak dan beraktifitas apabila tidak ada hidup (urip). Jadi manuk majazi tidak bisa beraktififas apabila manuk hakiki tidak bergerak. Dan semuanya tidak bisa bergerak apabila tidak adanya hidup jati, hidup jati yaitu manungso sejati yaitu sejatine hidup hidup sejati.

Bab III

Penjelasan tentang dhohir dan bahtin.

Dhohir adalah sesuatu yang bisa di terlihat oleh mata kepala

Bathin adalah sesuatu yang hanya bisa di lihat oleh nur bashiroh (mata hati)

      Pada hakikatnya manusia adalah dhohir bathin. Dalam arti dhohir itu hamba (kawulo) bathin adalah pengeran, dhohir itu Muhammad bathin itu alloh, dhohir itu jasad bhathin itu urip sebab dhohir itu asal dari nur Muhammad dan bathin asal dari nurulloh. Dalam arti, hidup itu berasal dari nurulloh seedangkan jasad berasal dari nur Muhammad. Kalau hidup itu bisa di artikan qodim dan jasad itu bisa di artikan mukhdas (baru). Jadi sebagai manusia itu harus mengetahui dhohir dan bathin. Sebab apabila tidak mengerti dhohir dan bathinnya, bisa di bilang orang tersebut tidak mengerti mana yang di namakan hamba dan mana yang di namakan gusti (pengeran), tidak mengetahi yang menyembah dan sejatinya yang di sembah. Dan apabila sudah mengetahui sejatinya kawulo dan mengetahui sejatinya gusti, baru dia akan mengetahui siapa yang menyembah dan siapa yang di sembah, berarti sudah mengetahui sejatinya yang hidup dan sejatinya yang mati, kemudian mengetahui hakikat diri dan mengetahui hakikat pengerannya. Dan apabila sudah mengetahui hakikat awake dewe (dirinya) berarti dia kenal akan tuhannya. 

Firman alloh dalam kitab suci:

Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu waman jahila nafsahu faqod jahila robbahu faqod kafaro…

Artinya: barang siapa yang mengenal hakikat jati dirinya maka dia mengenal hakikat tuhannya dan barangsiapa belum kenal hakikat jati dirinya maka dia tidak akan bisa mengenal tuhannya, dan barang siapa tidak mengenal tuhannya maka urang itu kufur.

Ini adalah ilmu thoriqoh yaitu jalan mengerti sejatinya alloh dan jalan kembali pada alloh bukan jalan sowan kepada alloh.

Seperti firman alloh dalam surat al bqoroh ayat 1 – 5.

Pembagian Iman Dalam Tafsir Kitab Sirojul Ma'arif

                             Penjelasan iman dalam kitab sirojul ma’arif

 Iman adalah melafalkan pada ucapan dan meyakinkan dalam hati bahwa tidak ada yang wajib di sembah kecuali hanya alloh, percaya pada malaikat-malaikat alloh, percaya adanya kitab-kitab alloh, percaya rasul-rasul alloh, percaya hari akhir, percaya qodo’ dan qodarnya alloh.

Pembagian tentang iman diantaranya:

 1. Iman iqror
 Yaitu pengakuan dalam hati kalau dirinya itu iman kepada alloh tetapi tidak mengetahui sejatinya alloh. Beriman kepada malaikat tapi dia belum mengetahui hakikat malaikatnya alloh,iman kepada utusannya alloh tetapi dia tidak mengetahui hakikat utusan alloh, beriman atas kitab alloh tetapi dia tidak mengetahui hakikat kitab alloh, beriman pada hari akhir tetapi di tidak mengerti hakikat hari akhir, beriman pada qodo’ dan qodarnya alloh tetapi dia tidak mengetahuihakikat qodo’ dan qodarnya alloh. Dia mengaku iman lewat ucapannya saja “amantu billahi wamalaikatihi wal malaikatihi wakutubihi warusulihi wal yaumil akhiri wabil qodri khoirihi wasyarrihi minallohi taala” seperti itulah iman ikror yaitu beriman hanya pada ucapannya saja.dan pada hukumnya dia sudah iman tetapi iman hanya pada hukum.

 2. Iman tasdiq Iman tasdiq
 bisa di anggap sebagai iman taqlid yaitu beriman atas dasar manut melakukan perintah guru sedangkan dia tidak mengetahui hakikat iman. Yang dia ketahui adalah ikud ikutan sebagai bukti tawadhu’nya dia pada guru,dan para ulama’.

3. Iman tasdiqul iqror 
Yaitu iman yang mana dia mengucapkan dengan perintah dari guru dan ulama’ dengan melakukan amal-amal syariat dan sangat bertawahu’ kepada alloh, merasa menjadi hamba alloh. Dia belum mengetahui apa yang dia imani dan belum mengetahui apa itu iman.

4. Iman yaqin 
Yaitu percaya adanya alloh berdasarkan kitab yang menjelaskan kenyataan alloh dan mengetahui, menyadari kekuasaan alloh dan meyakini semua yang ada di dunia dan lagit seisinya itu yang menjadikanya adalah alloh dan dia merasa menjadi kawula alloh dan melakukan apa yang di perintah alloh dan menjauhi larangannya dengan sebuah keyakinan. Apabila dia tidak melakukannya akan di murkai oleh alloh dan akan di siksa kelak di hari akhir.

5. Iman ainul yakin
 Yaitu percaya dan mengetahui bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan alloh dan itu adalah kuasanya alloh tanpa adanya keragu-raguan dalam hati. Lima macam iman diatas adalah imannya orang ahli syariat.

6. Iman haqqul yakin
yaitu mengetahui bahwa alloh mempunyai sifat wajib 20 dan sifat mukhal 20, dan mengetahui sifat jaiznya pengeran, dan menyadari semua yang ada di langit dan ada di bumi di ibaratkan seperti mayat, dia hidup sebab ada yang menghidupkan, dia bisa berjalan sebab ada yang menggerakkan, dia kaya sebab aya yang kuasa membuat dia kaya, dia bisa mengucap sebab ada yang membuat dia mengucap. Semuanya adalah kuasa alloh. Ini adalah iman ahli thoriqoh

7. Iman tauhid 
Yaitu percaya alloh maha esa. Dia meyakini bahwa alam itu tidak ada,jasad tidak ada, tidak ada hidup, tidak ada wujud, tidak ada ttampilan,tidak ada nama, tidak ada kelakuan, hanya alloh yang tampil tidak ada dua yang ada hanya satu (lailaha illa alloh), ini adalah iman orang ahli tauhid.

8. Iman ma’rifat
Yaitu percaya dan mengetahui sejatinya alloh,dan hakikat alam seisinya taitu mengetahui arti lafad bismillah dan mengerti hakikat makna satu persatu lafad bismillah, jadi mengerti sejatinya alloh,sejatinya alam seisinya, ngerti sejatinya dzat, ngerti sejatinya sifat, ngerti sejatinya asma, ngerti sejatinya af’al, ngerti sejatinya pengeran, ngerti sejatinya kawulo, ngerti sejatinya yang menyembah dan sejatinya yang di sembah, ngerti sejatinya hidup, ngerti sejatinya diri, ngerti asal muasalnya hidup, ngerti kejadiannya hidup, ngerti tempatnya hidup, ngerti datangnya hidup, ngerti kemana larinya ruh, ngertiasal mulanya jasad, percaya dhohir bathin, ini adalah iman ahli ma’rifat yaitu imannya para nabi dan para wali imannya orang arif dan orang mu’min khaq.

9. Iman ghoib 
Yaitu mengetahui hal yang ghoib, yaitu mengetahui mengetahui hakikat sejatinya alloh alloh sejati, dalam arti mengetahui keghaiban. Di saat alloh masih ghaib dan belum nyata, alloh masih ada di alam ahadiyyah, masih berwujud dzat sejati sejatinya dzat, sifat sejati sejatinya sifat, masih wujud mahdi (wujud sak woco) wujud mtlaq ithlaqnya. Wujud sendiri, tidak ada yang lain yang ada hanya dia sendiri. Ini adalah iman ahli arifin, para nabi dan para wali alloh.

10. Iman ghoibul ghoib
 Yoiku percoyo marang ghoibing ghoib, dzat sejati sejatine dzat, yoiku wong seng manggon ono dzatnya alloh,yaitu orang yang mengetahui sejatinya ka’bah, bisa menghadap di hakikat kiblatnya alloh, sudah bisa manggon di tenggah-tenggah oro oro tarwiyyah,wes manggon ono panggonan kang jembar luwih jembar tanpo winates, wes manggon ono ing masjid suci selamanya yaitu yng di namakan masjid samar. Wallohu a’lam. subhanalloh

11. Iman baqo’ 
Yoiku iman kang tetep, ono ing rino lan wengi, isuk lan sore, melEk turu tetep iman tetep percoyo kabeh polah tingkahe mung kagungane alloh awak lan urip mung kagungane alloh, tetep iling lan ngerti ora pisah marang alloh babar pisan,

12. Iman baqoul baqo’
Yoiku iman kang tetep luwih tetep iman kang tanpo pegots selawase, isuk iman, sore iman, bengi iman,awan iman, susah iman, bunggah iman, melarat iman sugih iman, melek iman, turu iman, kerjo iman, leren iman, melaku iman, mandek iman obah iman, meneng iman,tetep manggon ing dzat allohora tau metu ing dzat allohlan ora metu saking bumine alloh.

13. Iman kamil
  Yoiku iman sampurno. Sampurno kaweruhe, sampurno baline entek ilang kari alloh.

14. Iman kammil mukammil
   yaitu imannya orang gila, bukan gila pada dunia dan ahirat, tetapi gila pada dzat alloh 

Sabtu, 04 Januari 2014

Gejala Campuran




Gejala-Gejala Campuran
Perhatian,Kelelahan dan Sugesti
Psikologi Umum
oleh dosen pengampu:
Mas Hullatun Nasia Mpd.i

Penulis
Imam Hermanu
Nim : 201205010076
Pendidikan Agama Islam
Universitas Sunan Giri Surabaya
2014



 GEJALA CAMPURAN
(PERHATIAN,KELELAHAN,SUGESTI)
A.  PERHATIAN
Pengertian Perhatian
Dalam istilah psikologi, perhatian diartikan sebagai suatu reaksi yang dilakukan oleh organisme dan kesadaran seseorang.
Perhatian ialah konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengenyampingkan yang lain daripada itu.[1][2].
 Perhatian adalah reaksi umum yang menyebabkan bertambahnya aktifitas daya konsentrasi dan fokus terhadap satu objek, baik didalam maupun di luar dirinya.Perhatian juga adalah merupakan penyeleksian terhadap stimuli yang ditermia oleh individu yang bersangkutan.[2][3]
Menurut Dr. Aryan Ardhana, perhatian adalah suatu kegiatan jiwa. Perhatian dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan phase-phase atau unsur-unsur pengalaman dan mengabaikan yang lainnya. Sedang menurut Drs. Dakir, perhatian adalah keaktifan peningkatan kesadaran dalam pemusatannya kepada barang sesuatu baik di dalam maupun di luar diri kita.[3][4]

Macam-Macam Perhatian
Ada beberapa macam perhatian, diantaranya ialah :
1.  Perhatian Spontan dan Disengaja
Perhatian Spontan (Perhatian Asli atau Langsung) ialah Perhatian yang timbul dengan sendirinya oleh karena tertarik pada sesuatu dan tidak didorong oleh kemauan.
Perhatian Disengaja ialah Perhatian yang timbulnya didorong oleh kemauan karena adanya tujuan tertentu, biasanya ditujukan kepada sesuatu objek. Misalnya siswa SPG mendapat tugas dari orang tuanya untuk belajar. Didorong oleh tugas dari orang tua dan cita-citanya sendiri, maka setiap saat perhatiannya terhadap pelajaran cukup besar. Mereka sadar bahwa berhasil atau tidaknya ujian,akan berpengaruh kepada dirinya dan akan mempunyai arti besar bagi hidupnya.
2.  Perhatian Statis dan Dinamis
Perhatian Statis ialah Perhatian yang tetap terhadap sesuatu.Ada orang yang dapat mencurahkan perhatiannya kepada sesuatu seolah-olah tidak berkurang kekuatannnya, dan dalam waktu yang agak lama orang dapat melakukan sesuatu dengan perhatian yang kuat. Misalnya, Seorang anak memperhatikan sekali pelajaran seni suara. Pelajaran itu cocok untuknya. Dalam waktu agak lama perhatiannya terhadap suasana music atau seni masih cukup kuat tidak mudah berpindah kepada objek lain.
Perhatian Dinamis ialah Perhatian yang mudah berubah-ubah, mudah bergerak, mudah berpindah dari objek satu ke objek yang lain.
3.  Perhatian Konsentratif dan Distributif
Perhatian Konsentratif (Perhatian Memusat) ialah Perhatian yang hanya ditujukan kepada satu objek (masalah) tertentu. Misalnya, seseorang sedang memecahkan soal aljabar yang sangat sulit. Saat itu jiwa dipusatkan pada soal-soal aljabar dan erhatian tidak bercabang.Sifat ini umumnya kukuh dan kuat tidak gampang pindah ke objek lain.

Perhatian Distributif (Perhatian Terbagi-bagi) ialah Membagi-bagi perhatiannya kepada beberapa arah dengan sekali jalan/dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, guru sedang mengajar, sopir sedang mengemudi mobil, polisi lalu lintas bertugas ditengah-tengah jalan yang ramai.
4.  Perhatian Sempit dan Luas
Perhatian Sempit ialah orang yang dengan mudah dapat memusatkan perhatiannya kepada suatu objek yang terbatas, sekalipun ia berada dalam lingkungan ramai.Orang semacam itu tidak mudah memindahkan perhatiannya ke objek lain, jiwanya tidak mudah tergoda oleh keadaan disekelilingnya.
Perhatian Luas ialah Orang yang mudah sekali tertarik oleh kejadian-kejadian sekelilingnya. Perhatiannya tidak dapat mengarah kepada hal-hal tertentu, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya kepada hal-hal baru.
5.  Perhatian Fiktif dan Fluktuatif
Perhatian Fiktif (Perhatian Melekat) ialah Perhatian yang mudah dipusatkan pada suatu hal dan boleh dikatakan bahwa perhatiannya dapat melekat lama pada objeknya. Biasanya orang ini teliti sekali dalam mengamati sesuatu, bagian-bagiannya dapat ditangkap dan apa yang dilihatnya dapat diuraika secara obyektif.
Perhatian Fluktuatif (Bergelombang) ialah Orang yang umumnya dapat memperhatikan bermacam-macam hal sekaligus, tetapi kebanyakan tidak saksama.Perhatiannya sangat subyektif sehingga melekat pada hal-hal yang dirasa penting bagi dirinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian. Sebuah perhatian tidak timbul begitu saja pada diri seseorang. Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perhatian menurut Abu Ahmadi (2003) sebagai berikut:



1.            Pembawaan
Adanya pembawaan tertentu yang berhubungan dengan objek yang direaksi, maka sedikit atau banyak akan timbul perhatian terhadap objek tertentu.
2.    Latihan dan Kebiasaan
Meskipun dirasa tidak ada bakat pembawaan tentang suatu bidang, tetapi karena hasil daripada latihan-atihan atau kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang tersebut.
3.    Kebutuhan
Adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut. Kebutuhan merupakan dorongan, sedangkan dorongan itu mempunyai tujuan yang harus dicurahkan kepadanya.
4.    Kewajiban
Kewajiban mengandung tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan. Bagi orang yang bersangkutan dan menyadari atas kewajibannya, maka orang tersebut tidak akan bersikap masa bodoh dalam melaksanakan tugasnya, oleh karena itu orang tersebut akan melaksanakan kewajibannya dengan penuh perhatian.
5.    Keadaan Jasmani
Keadaan tubuh yang sehat atau tidak, segar atau tidak, sangat mempengaruhi perhatian seseorang terhadap sesuatu objek.
6.    Suasana Jiwa
Keadaan batin, perasaan, fantasi, pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatian seseorang, mungkin dapat membantu, dan sebaliknya dapat juga menghambat.
7.    Suasana di Sekitar
Adanya bermacam-macam perangsang di lingkungan sekitar, seperti kegaduhan, keributan, kekacauan, temperatur, sosial ekonomi, keindahan, dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian individu.
8.    Kuat tidaknya Perangsang
Seberapa kuat perangsang yang bersangkutan dengan objek itu sangat mempengaruhi perhatian individu. Kalau objek itu memberikan perangsang yang kuat, maka perhatian yang akan individu tunjukan terhadap objek tersebut kemungkinan besar juga. Sebaliknya kalau objek itu memberikan perangsang yang lemah, perhatian juga tidak begitu besar.
Jadi banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi perhatian seseorang terhadap orang lain, meliputi pembawaan, latihan, kebiasaan, kebutuhan, kewajiban, keadaan jasmani, suasana jiwa, suasana lingkungan sekitar, kuat atau tidaknya rangsangan yang dapat menimbulkan perhatian.[4][5]
Minat dan Perhatian
Minat dan perhatiaan pada umumnya dianggap sama/ tidak ada perbedaan. Minat (interesse) adalah sikap jiwa seorang termasuk ketiga fungsi jiwanya (kognisi, konasi, emosi), yang tertuju pada sesuatu, dan dalam hubungan itu unsur perasaan yang terkuat.
Perhatiaan adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek tertentu. Di dalam gejala perhatian, ketiga fungsi jiwa tersebut diatas pun juga ada, tetapi unsur pikiranlah yang terkuaat pengaruhnya.[5][6]
Minat ialah sesuatu pemusatan perhatiaan yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungannya.[6][7]
Syarat-syarat Perhatian agar Mendapat Manfaat
1)  Inhibisi yaitu pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan, atau menghalang-halangi masuk kedalam lingkungan kesadaran.
2)  Appersepsi yaitu pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk tanggapan,pengertian dan sebagainya yang telah dimiliki dan bersesuaian/ berhubungan dengan obyek pengertian.
3)  Adaptasi  yaitu penyesuaian diri antara subyek dan obyek.
Kalau ketiga syarat tersebut (inhibisi, appersepsi dan adaptasi) dapat dipenuhi, maka cukuplah perhatian seseorang terhadap sesuatu, akibatnya pekerjaan yang dilakukan baik dapat berjalan dengan baik tanpa gangguan.
Beberapa Peristiwa dalam gejala Perhatian
1.  Perseverasi (Menahan)
Peristiwa ini terjadi kalau seseorang sangat terikat perhatiannya pada suatu objek tertentu, sehingga sukar melepaskan perhatiannya dari objek tertentu.Karena sangat tertarik pada objek tersebut maka sekalipun bermunculan objek baru, objek baru itu tidak akan menarik perhatiannya.
2.  Adaptasi
Peristiwa kejiwaan ini bertentangan dengan perseverasi. Perhatian ini tidak terikat pada suatu objek saja tetapi selalu berpindah-pindah dan mudah mnyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru.Peristiwa Adaptasi umumnya berlangsung pada orang yang mempunyai perhatian lunak.
3.  Osilasi
Yakni keadaan perhatian yang tidak tetap, timbul tenggelam, kuat kendur dan sering terputus-putus. Misalnya seseorang yang mendengarkan ceramah tentang pelita dan modes. Semula perhatiannya cukup besar, Setelah selesai ternayta ada bagian yang tak tertangkap.Hilangnya bagian-bagian yang tak tertangkap itu berbarengan dengan terputusnya perhatian orang terhadap ceramah tersebut.
4.  Perhatian Bergerak
Peristiwa ini perhatiannya berserakan, seakan-akan tidak mempunyai perhatian sama sekali terhadap apa saja baik tentang dirinya maupun terhadap apa yang ada disekitarnya. Peristiwa ini sebagai akibat dari adanya perseverasi.
Jenis-jenis Perhatian
Perhatian dapat dibedakan menurut bentuk dan sifatnya. Masing-masing pembedaan itu sebagai berikut :
Menurut bentuknya, perhatian dibedakan atas :
1.  Perhatian sengaja yaitu jenis perhatian yang terjadi apabila individu ingin menyaring secara kuat dan ingin menangkap kesan lebih jelas.
2.  Perhatian tidak sengaja yaitu jenis perhatian dalam mana tidak ada usaha sadar dari individu untuk memusatkan perhatiannya pada suatu penginderaan tertentu, tetapi indera secara tidak sengaja terpusatkan pada bagian-bagian indera tertentu.
3.  Perhatian habitual yaitu kecenderungan individu untuk memusatkan perhatiannya pada hal-hal tertentu dalam setiap keadaan lingkungan dengan meninggalkan perangsang-perangsang lainnya.

Menurut  sifatnya, perhatian dibedakan atas :
1.  Perhatian spontan langsung atau direct dan perhatian paksaan yaitu jenis perhatian yang tidak sengaja, individu merasa senang terhadap obyek yang diamati.
2.  Perhatian konsentratif dan perhatian distributif, mengacu pada obyek yang diamati.
3.  Perhatian sempit dan perhatian persevatif.

Penyimpangan Perhatian (In-attention)
Penyimpangan Perhatian Merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang pada suatu  tertentu,dimana perhatiannya ditunjukkan hal-hal lain,sehingga tidak sesuai dengan peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung. Terbentuknya penyimpangan perhatian didorong oleh faktor internal sesaat individu dalam keadaan lapar, lelah dan sebagainya.
Beberapa cara dalam mengatasi gangguan perhatian antara lain:
1.  Memperkuat Motivasi
2.  Memperkuat usaha dalam menjalankan suatu tugas
Beberapa petunjuk penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan masalah konsentrasi dan perhatian antara lain:
a)  Singkirkan dan hindari sebanyak mungkin kejadian-kejadian yang mengakibatkan terpecahnya perhatian dan minat.
b)  Kerjakan satu tugas saja, Konsentrasikan segenap minat dan perhatian pada penunaian tugas.
c)  Sukses pada suatu usaha memberikan rangsangan untuk mencapai sukses dalam usaha lainnya.
d)  Memiliki pengetahuan siap yang cukup dan mempergunakan pengalaman-pengalaman masa lampau untuk memecahkan masalah-masalah baru (proses transfer of learning).
e)   Bersikaplah tenang, hati-hati dan selalu waspada.
f)   Perbesarlah kemampuan adaptasi, agar bias lebih peka terhadap perubahan situasi dengan segenap permasalahannya,sehingga bias memecahkan setiap permasalahan dengan cara yang sehat.
g)  Singkirkan hambatan-hambatan emosional dalam usaha pengkonsentrasian diri dan pencurian minat.Misalnya, rasa enggan, takut, cemas, minder dan lainnya.Sebab hambatan dan gangguan emosional itu dapat membuat seorang yang menjadi pemimpin yang enggan bekerja.
B.   KELELAHAN
Pengertian Kelelahan (Fatigue)
Pengertian Kelelahan secara sempit memang hanya sebats lelah fisik yang dirasakan saja. Hal ini dikarenakan setiap orang yang merasakan kelelahan hanya terbatas pada keluhan-keluhan fisik yang mereka rasakan saja.
Kelelahan adalah perpaduan dari wujud penurunan fungsi mental dan fisik yang menghasilkan berkurangnya semangat kerja sehingga mengakibatkan efektifitas dan efisiensi kerja menurun (saito,1999).
Menurut kroemer 1997, kelelahan merupakan gejala yang ditandai adanya perasaan lelah dan kita akan mersa segan dan aktifitas akan melemah serta ketidakseimbangan pada kondisi tubuh. Kelelahan mempengaruhi kapasitas fisik, mental dan tingkat emosional seseorang, dimana dapat mengakibatkan kurangnya kewaspadaan, yang ditandai dengan kemunduran reaksi pada sesuatu dan berkurangnya kemampuan motorik.
Gejala Kelelahan pada Manusia
Sejak lahir sampai menjelang meninggal dunia manusia mempunyai dorongan –dorongan untuk bergerak dan melakukan bermacam-macam kesibukan.
Gerak-gerak yang dlakukan itu tidak sama bentuk dan tingkatannya, ada yang beruspa gerak-gerak reaksi, disusul gerak kaki dan tangan, merangkak, berjalan, berlari, dan ada pula kesibukan-kesibukan bekerja, kesemuanya membutuhkan kekuatan dan kemampuan.
Semua gerak dan kesibukan itu mempunyai arti bagi manusia. Tetapi pada suatu saat kekuatan untuk berbuat itu makin lama makin berkurang. Berkurangnya kekuatan bergerak (baik jasmani maupun rohani), akan member pengaruh mengurangkan prestasi-prestasi yang akan dicapai. Gejala berkurangnya manusia untuk melakukann sesuatu disebut kelelahan/keletihan/kelesuan/kepenatan.
Sebaliknya kita mengetahui juga, bahwa tenaga manusia itu ada batasnya.Batas itulah yang menunjukkan datangnya keletihan.Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, orang melakukan kerja jasmani dan rohani. Karena sesuatu kesibukan maka sampailah orang pada batas kekuatannya dan saat itu tibalah keadaan lelah.
Sebenarnya kelelahan itu adalah sesuatu keadaan atau kondisi, baik kondisi jasmani maupun kondisi psikis, bukan suatu dorongan tertentu.Namun demikian kelelahan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Karena alasan itulah maka kelelahan dimasukkan didalam gejala campuran.[7][8]

Sistem penggerak Kelelahan
Kelelahan diatur secara terpusat oleh otak.Terdapat struktur susunan syaraf pusat yang berperan penting dalam mengontrol fungsi secara luasdan konsisten yaitu reticular formation atau penggerak pada medulla yang berfungsi meningkatkan dan mengurangi sensitivitas dari cortex cerebri . Cortex cerebri berfungsi sebagai pusat kesadaran meliputi persepsi, perasaan subjektif, refleks dan kemauan. Keadaan dan perasaan lelah merupakan reaksi fungsional dari fusat kesadaran yang dipengaruhi oleh system penghambat (inhibisi) dan system penggerak (aktivasi) yang saling bergantian. Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang bekerja menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan mengakibatkan kecenderungan untuk tidur, Sedangkan system penggerak terdapat di formation retikularis yang dapat merangsang tubuh untuk bekerja, berkelahi, melarikan diri dan lainnya.Keadaan seseorang sangat bergantung kepada hasil kerja dua system tersebut. Apabila system penghambat lebih kuat, seseorang akan berada pada kelelahan.Sebaliknya, apabila system aktivasi lebih kuat seseorang maka akan dalam keadaan segar untuk melakukan aktivitas. Kedua sistem harus berada dalam kondisi yang memberikan stabilitas kepada seluruh tubuh, agar tenaga kerja berada dalam keserasian dan keseimbangan.

Sebab-sebab Kelelahan
Kelelahan disebabkan karena berlangsungnya suatu aktifitas atau pekerjaan, baik aktifitas jasmani maupun rohani. Maka ada kemungkinan:
1.  Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jasmani, misalnya : mencangkul, berolahraga, berjalan jauh, memikul berat, bersepeda dan sebagainya.
2.  Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jiwa, misalnya memikirkan masalah–masalah yang pelik, lama berkonsentrasi, mengerjakan soal-soal hitungan, membaca terlalu lama dan sebagainya.

Macam-macam kelelahan
1.  Kelelahan Jasmani : Kalau kekuatan jasmani berkurang, sehingga tidak dapat melakukan sesuatu dengan semestinya, maka orang itu mengalami kelelahan jasmani.
2.  Kelelahan Rohani : Kalau kekuatan jiwa berkurang, sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan psikis dengan semestinya, maka orang itu dikatakan mengalami kelelahan rohani atau kelelahan jiwa.
Di samping kelelahan fisik, kita juga mengenal kelelahan psikis. Pada kelelahan psikis sering muncul gejala lemas bagaikan habis terkuras tenaga, dan muncul gangguan dalam funsi-fungsi psikis, misalnya berkurangnya daya konsentrasi dan minat, hilang daya ingatan, cepat lupa dll. Kelelahan otot tidak ada, akan tetapi lebih banyak muncul gejala nerveus dan sakit kepala.
Gejala kelelahan dikelas tampak nyata dengan penampilan sebagai berikut: orang / anak-anak menjadi gelisah, bergerak kian kemari, kaki digeser-geserkan, tangan digerak-gerakan menjadi tidak sabaran, menjadi ribut dan sukar dikendalikan, tiddak berminat, berulang-ulang melihat jam, dll.
Hubungan kelelahan Jasmani dan Kelelahan Rohani
Manusia adalah suatu psiko-somatis, selamanya tidak dapat diadakan pemisahan antara jiwa dan raganya.Oleh karena itu kelelahan jasmani tidak dapat dipisahkan pula dengan kelelahan rohani, dan sebaliknya. Hal-hal yang mungkin terjadi:
1.  Baik Kelesuan Jasmani maupun Rohani dirasakan oleh seluruh pribadi.
2.  Pekerjaan Jasmani dapat menimbulkan kelelahan Rohani
3.  Pekerjaan Rohani dapat menimbulkan kelelahan Jasmani
4.  Kelelahan Jasmani dapat mengurangi kegiatan jiwa dan jasmani.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa antara Jasmani dan Rohani, antara Kelesuan Jasmani dan Kelesuan Rohani mempunyai hubungan timbale balik dan saling mempengaruhi.
Pendapat-pendapat tentang kelesuan
Teori Inteksinasi (into = intra =dalam; toxicun = racun)
Inteksinasi berarti didalam badan kita telah terdapat atau terjadi racun yang dapat menimbulkan kelesuan.Teori Inteksinasi termasuk teori lama. Pokok-pokok teori tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :
Tubuh kita bekerja, didalam tubuh kita terjadi pertukaran zat, peredaran darah dan
pembakaran.Karena pertukaran zat, peredaran darah dan pembakaran itu timbullah berbagai benda sisa atau “ampas”. Sisa-sisa pembakaran itu masuk kedalam peredaran darah dan akhirnya masuk kedalam susunan urat syaraf. Disinilah benda-benda itu menyebabkan terbentuknya semacam benda berbisa atau beracun.Inilah yang menimbulkan rasa lesu, baik Jasmani maupun Rohani, baik setempat maupun seluruh tubuh.

Teori Biologis
Tokohnya : Thorndike. Teori ini termasuk teori baru yang mencari sebab-sebab kelesuan dari hukum-hukum hidup manusia.
Thorndike menunjukkan 2 peristiwa yang terjadi pada manusia. Apabila ia bekerja agak lama, aan terjadi:
a.  Pengurangan tenaga pada kita, pengurangan tenaga itu menyebabkan timbulnya gejala kelesuan.
b.  Perasaan bosan, pekerjaan dalam waktu lama makin lama makin menimbulkan perasaan bosan.
Kebosanana dapat menghambat kemajuan pekerjaan. Karena kebosanan berkuranglah perasaan puas pada pekerjaan . Hal ini dirasakan juga sebagai kelesuan/kelelahan.

Usaha-Usaha Menghilangkan Kelelahan
Cara menghilangkan rasa lelah pada umumnya orang beristirahat atau menghentikan apa yang dijalankan. Tentang menghentikan aktivitas sudah tentu harus disesuaikan dengan jenis aktivitasnya.
1.  Menghentikan pekerjaan jasmani untuk menghilangkan kelelahan jasmani.
2.  Menghentikan pekerjaan rohani untuk menghilangkan kelelahan rohani
Disamping cara-cara tersebut, tentang istirahat ini masih ada beberapa kemungkinan,
1.  Untuk menghilangkan kelelahan jasmani, cukuplah kiranya kalau orang menghentikan pekerjaan yang dilakukan, duduk-duduk, tidur dan sebagainya.
2.  Untuk menghilangkan kelelahan rohani kadang-kadang orang tidak cukup menghentikan pekerjaan yang dilakukan, tetapi kadang-kadang orang tidak perlu menghentikan sepenuhnya pekerjaan / berpikir yang dilakukan.
Misalnya: berjalan-jalan, menonton film, bersenda gurau dan sebagainya. Dengan cara demikian biasanya kelelahan jiwa dapat hilang dan kembali kuat dan segar.
Maka iklim pendidikan dan suasana kerja perlu dilengkapi antara lain dengan persyaratan sebagai berikut :
1.  Adanya ventilasi yang baik, hawa udara segar bisa masuk, penerangan lampu yang cukup, dan bangku/kursi yang nyaman pas.
2.  Menyediakan waktu-waktu istirahat dan waktu libur yang cukup sepanjang tahun.
3.  Pelajaran dan tugas-tugas pekerjaan yang sulit dan berat, hendaknya diletakkan pada pagi hari / awal jam pelajaran dan pekerjaan yang lebih mudah diletakkan pada siang/ petang hari.
4.  Adanya pengajar / pendidik  yang simpatik, dengan suaranya yang lancar, dan menimbulkan senang dihati. Sebab suara yang tinggi melengking / banyak lamban menjemukan dan monoton, akan cepat melelahkan pendengarannya.
C.          SUGESTI

Pengertian sugesti
Sugesti (saran), ialah pengaruh terhadap jiwa dan tigkah laku seseorang dengan maksud tertentu, sehingga pikiran, perasaan dan kemauan terpengaruh olehnya, dan menuruti saja pengaruh tersebut, tanpa dengan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu.
Sugesti adalah pengaruh yang berlangsung terhadap kehidupan yang psikis dan segenap perbuatan kita, dengan mana perasaan , pikiran dan kemauan kita sedikit / banyak dibatasi oleh karenanya. Orang-orang yang mudah terkena sugesti disebut sugestibel, dan mereka yang memiliki daya pengaruh terhadap orang lain disebut sugestif.
Otosugesti adalah sugesti yang keluar dari diri sendiri. Otosugesti itu mempunyai pengaruh yang besar sekali tehadap sukses atau gagalnya usaha kiat. Kecemasan dan ketidakpercayaan diri misalnya, memeberikan pengaruh sugestif yang melelahkan pada pribadi. Sebaliknya optimisme dan kepercayaan diri memberi sugesti yang poositif pada keberhasilan suatu pekerjaan.
Keadaan dimana seseorang sangat peka terhadap sugesti ialah dalam keadaan hipnosia. Hipnosia adalah kondisi yang mirip sekali dengan tidur, namun tetap disertai dengan unsur konsentrasi dan perhatian, dengan mana orang yang bersangkutan terbuka sekali bagi sugesti-sugesti yang diberikan oleh hipnotiseu (yang menhipnotisir), dan tidak peka terhadap perangsang-perangsang lainnya.
Sugesti mempunyai arti yang besar dalam pemestian dan fakta sosial, misalnya di sekolah-sekolah, bidang perguruan, di balai pengadilan bidang pemerintahan, penentuan keputusan, dll. Individu-individu yang bersangkutan akan tersugerir oleh nasehat-nasehat, informasi-informasi lisan, tulisan disurat kabar, ucapan saksi, dll. Betapapun besarnya pengaruh sugesti ini pada orang lain, namun tetap saja ada batas pengaruhnya. Agar supaya sugesti-sugesti itu diterima, diperlukan adanya psikis yang sama, yaitu pikiran dan perasaan yang kurang lebih sejenis dalam kehidupan sendiri, sama dengan milik pemberi sugesti.
Semua jenis pekerjaan bisa diperingan oleh sugesti-sugesti yang positif. Maka kemampuan memberi sugesti yang positif ini dimasukan dalam kategori untuk seni mengajar dan seni memimpin. Yaitu seni untuk membangkitkan gairah kerja dan gairah belajar, menciptakan suasana yang menggembirakan, penuh harapan, menimbulkan minat, dll. Namun hendaknya diusahakan agar anak didik tidak bergantung pada sugesti-sugesti ini.
Sugesti tersebut masih perlu diberikan selama anak atau orang dewasa yang bersangkutan belum mampu memilih jalan hidupnya sendiri, dan memerlukan bimbingan. Dengan begitu, sugesti juga bisa dimanfaatkan untuk pendidikan kemauan dan pemupukan dan pemilihan motivasi. Lambat laun, sugesti-sugesti ini perlu dikurangi, agar orang sampai pada pikiran sendiri, wawasan / insight sendiri keyakinan sendiri dan tanggung jawab sendiri.
 Alat-alat sugesti, Seperti ;
1.  Pandangan mata. Misalnya dengan pandangan mata yang menyala atau meredup orang dapat mencapai apa yang dikehendaki, meskipun orang yang dipandang itu merasa terpikat atau terpaksa.
2.  Dengan suara (kata-kata). Misalnya dengan kata-kata yang merayu atau kata-kata kasar seseorang dapat pula menuruti kehendaknya.
3.  Dengan air muka. Orang dapat seakan memaksa seseorang menuruti kehendaknya, bila ia mempergunakan air mukanya. Misalnya dengan muka berseri, senyum, merah padam, kecut, sinis dan lain-lainnya.
4.  Dengan suriteladan, sesungguhnya orang tidak perlu memrintahkan sesuatu dengan kasar, keras bahkan dengan ancaman kalau ia sendiri tidak menjalankan apa yang diperintahkan.
5.  Dengan gambar. Dengan teknik reklame. Misalnya seseorang lekas terpengaruh dengan gambar bintang film, kemudian menonton.
6.  Dengan semboyan. Ini misalnya yang dipergunakan dalam memperbuat usaha yang besar. Misalnya dalam usaha merebut kemerdekaan kita bersemboyan merdeka atau mati.
Orang yang mengsugesti disebut sugestif. Dan orang yang mudah disugesti disebut sugestibel.
Sugesti dan Sugestibel
1.  Sugesti adalah sesuatu yang mempunyai pengaruh sugesti yang besar. Orang yang sugestif ialah orang yang mempunyai pengaruh besar (orang yang mensugesti).
2.  Sugestibel adalah sifat-sifat yang mudah kena saran atau sugesti. Orang yang mudah kena pengaruh sugesti disebut orang yang sugestibel. Orang yang sugestibel tidak cukup mampu member pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan tentang sesuatu.Biasanya sifat ini terdapat pada anak-anak kecil yang kurang perhatian, orang yang kurang pengalamannya dan orang yang tidak terpelajar.
Sugesti tidak selalu datang dari orang lain. Banyak yang datang dari diri sendiri. Dan itu disebut dengan auto sugesti. Ini berguna untuk memberi cambuk supaya tidak lekas putus asa. Dan biasanya dapat memberi kepuasan dalam mengusahakan sesuatu. Misalnya :
1.  Dalam menghadapi hidup yang sulit, orang tersebut harus bisa meyakinkan dirinya bahwa usahanya akan berhasil.  Misalnya “ Aku akan berhasil”.
2.  Sudah beberapa jam anak itu tidak menyelesaikan soal stereometri itu, lalu ia berbisik kepadanya sendiri, sebentar lagi sampai. Dsb.
Syarat-syarat yang memudahkan sugesti itu terjadi yaitu :
1.  Sugesti karena hambatan berfikir.
2.  Sugesti karena mayoritas.
3.  Sugesti karena ingin keinginan untuk meyakini dirinya sendiri.
Manfaat sugesti dalam pendidikan
1.  Dengan sugesti  anak yang malas, yang menderita rasa harga kurang dan anak yang hampir putus asa, dapat menjadi seha, dengan sugesti yang positif.
2.  Terutama dengan autosugesti, anak dapat mengalami sesuatu semangat yang baru baginya. Ia menyadari kekuatannya, kelebihannya, dan sebagainya.
3.  Denga suara yang lemah lembut, sinar mata yang jernih, roman muka yang berseri dan bujukan yang manis, guru bisa lebih berhasil mencapai maksudnya.
Sugesti ini sering dipakai untuk :
1.  Pengobatan oleh dokter atau dukun.
2.  Demonstari-demonstrasi.
3.  Rapat-rapat raksasa.
4.  Pada diri sendiri (autosugesti).
5.  Pada pemeriksaan terdakwa.
6.  Sekolah.
7.  Perusahaan-perusahaan.

Peran Sugesti

Sugesti mempunyai peran penting, baik dalam kehidupan pada umumnya, maupun di sekolah. Dengan adanya sifat-sifat sugesti dalam kepemimpinan, maka akan terjadi:
1.  Pimpinan banyak disenangi anak buahnya.
2.  Adanya kepercayaannya besar kepada pimpinannya.
3.  Pimpinan akan dihormati, diturut dan diperhatikan segala perintahnya.

Berpengaruhnya sugesti di dalam lingkungan sekolah akan memberi kemungkinan:
1.  Anak-anak hormat kepada pimpinan/ gurunya.
2.  Anak-anak memperhatikan pelajaran yang diberikan.
3.  Anak-anak sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintah, suruhan-suruhan yang diberikan oleh guru.
4.  Nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk guru akan diturut anak-anak.
Karena besarnya peranan sugesti di dalam pergaulan, maka pelaksanaan sugesti ini dijalankan di berbagai lapangan, misalnya: di rumah sakit, dalam organisasi, dunia perdagangan dan sebagainya[8][9]
bahaya dari sugesti
1.  Sugesti yang negative. Orang yang memberi sugesti semacam ini dapat membunuh orang yang disugesti.
2.  Sugesti yang tidak tepat. Misalnya seorang guru yang memerintahkan kepada muridnya dengan segala kekerasan. Sedang ia sendiri tida melakukan seperti apa yang ia perintahkan. Guru inilah sebenarnya merusak jiwa anak.
3.  Autosugesti yang berlebih-lebihan. Dalam autosugesti kadang orang lupa kepada kesanggupan sebenarnya yang ada padanya. Kemudian ternyata ia tidak berhasil, ia mudah sekali masuk kelembah putus asa.
4.  Masa sugesti yang berlebih-lebihan. Para demonstrasi misalnya, berkobar-kobar rasa binatangnya, terhadap orang yang didemonstrasi. Apabila salah seorang dari demonstran ini berbuat sesuatu mungkin hanya pura-pura, maka seluruh demonstran akan berbuat semacam itu yang lebih bersungguh-sungguh. Karena itulah tidak jarang terjadi pembunuhan dalam demonstrasi-demonstrasi.
5.  Sekolah harus berusaha agar anak-anaknya dapat mengendalikan diri, supaya tidak mudah terlibat dalam sugesti.


[1][2] Agus sujanto, psikologi umum (Jakarta, Bumi aksara, 1993) hal : 89
[2][3] Drs. Abu Ahmadi dan Drs. M. Umar M.A., Psikologi Umum, Edisi Revisi ( Surabaya : PT Bina Ilmu, 1992 ) Hal : 93
[3][4] Drs. Dakir, Pengantar Psychologi Umum, hal.181
[5][6] Drs. Agus Sujanto, Psikologi Umum, Cet 11, ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2001), hal : 98
[6][7]  Ibid hal : 92
[7][8] http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/gejala-campuran-perhatian-kelelahan-sugesti-323428.html
[8][9] Drs. Agus Sujanto, Psikologi Umum, Cet 11, ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2001), hal : 107