Gejala-Gejala Campuran
Perhatian,Kelelahan dan Sugesti
Psikologi Umum
oleh dosen pengampu:
Mas Hullatun Nasia
Mpd.i
Penulis
Imam Hermanu
Nim : 201205010076
Pendidikan Agama
Islam
Universitas Sunan
Giri Surabaya
2014
GEJALA CAMPURAN
(PERHATIAN,KELELAHAN,SUGESTI)
A. PERHATIAN
Pengertian
Perhatian
Dalam istilah psikologi, perhatian diartikan sebagai suatu reaksi yang
dilakukan oleh organisme dan kesadaran seseorang.
Perhatian ialah
konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan
sebagainya dengan mengenyampingkan yang lain daripada itu.[1][2].
Perhatian adalah reaksi
umum yang menyebabkan bertambahnya aktifitas daya konsentrasi dan fokus
terhadap satu objek, baik didalam maupun di luar dirinya.Perhatian juga adalah
merupakan penyeleksian terhadap stimuli yang ditermia oleh individu yang
bersangkutan.[2][3]
Menurut Dr. Aryan Ardhana, perhatian adalah suatu kegiatan jiwa. Perhatian
dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan phase-phase atau unsur-unsur
pengalaman dan mengabaikan yang lainnya. Sedang menurut Drs. Dakir, perhatian
adalah keaktifan peningkatan kesadaran dalam pemusatannya kepada barang sesuatu
baik di dalam maupun di luar diri kita.[3][4]
Macam-Macam Perhatian
Ada beberapa macam perhatian, diantaranya ialah :
1. Perhatian Spontan dan Disengaja
Perhatian Spontan (Perhatian Asli atau Langsung) ialah
Perhatian yang timbul dengan sendirinya oleh karena tertarik pada sesuatu dan
tidak didorong oleh kemauan.
Perhatian Disengaja ialah Perhatian yang timbulnya
didorong oleh kemauan karena adanya tujuan tertentu, biasanya ditujukan kepada
sesuatu objek. Misalnya siswa SPG mendapat tugas dari orang tuanya untuk
belajar. Didorong oleh tugas dari orang tua dan cita-citanya sendiri, maka
setiap saat perhatiannya terhadap pelajaran cukup besar. Mereka sadar bahwa
berhasil atau tidaknya ujian,akan berpengaruh kepada dirinya dan akan mempunyai
arti besar bagi hidupnya.
2. Perhatian
Statis dan Dinamis
Perhatian Statis ialah Perhatian yang
tetap terhadap sesuatu.Ada orang yang dapat mencurahkan perhatiannya kepada
sesuatu seolah-olah tidak berkurang kekuatannnya, dan dalam waktu yang agak
lama orang dapat melakukan sesuatu dengan perhatian yang kuat. Misalnya,
Seorang anak memperhatikan sekali pelajaran seni suara. Pelajaran itu cocok
untuknya. Dalam waktu agak lama perhatiannya terhadap suasana music atau seni
masih cukup kuat tidak mudah berpindah kepada objek lain.
Perhatian Dinamis ialah Perhatian yang
mudah berubah-ubah, mudah bergerak, mudah berpindah dari objek satu ke objek
yang lain.
3. Perhatian Konsentratif dan Distributif
Perhatian Konsentratif (Perhatian
Memusat) ialah Perhatian yang hanya ditujukan kepada satu objek (masalah)
tertentu. Misalnya, seseorang sedang memecahkan soal aljabar yang sangat sulit.
Saat itu jiwa dipusatkan pada soal-soal aljabar dan erhatian tidak
bercabang.Sifat ini umumnya kukuh dan kuat tidak gampang pindah ke objek lain.
Perhatian
Distributif (Perhatian Terbagi-bagi) ialah Membagi-bagi perhatiannya kepada
beberapa arah dengan sekali jalan/dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, guru
sedang mengajar, sopir sedang mengemudi mobil, polisi lalu lintas bertugas
ditengah-tengah jalan yang ramai.
4. Perhatian Sempit dan Luas
Perhatian Sempit ialah orang yang
dengan mudah dapat memusatkan perhatiannya kepada suatu objek yang terbatas,
sekalipun ia berada dalam lingkungan ramai.Orang semacam itu tidak mudah
memindahkan perhatiannya ke objek lain, jiwanya tidak mudah tergoda oleh
keadaan disekelilingnya.
Perhatian Luas ialah Orang yang mudah
sekali tertarik oleh kejadian-kejadian sekelilingnya. Perhatiannya tidak dapat
mengarah kepada hal-hal tertentu, mudah terangsang dan mudah mencurahkan
jiwanya kepada hal-hal baru.
5. Perhatian
Fiktif dan Fluktuatif
Perhatian Fiktif (Perhatian Melekat) ialah Perhatian yang
mudah dipusatkan pada suatu hal dan boleh dikatakan bahwa perhatiannya dapat
melekat lama pada objeknya. Biasanya orang ini teliti sekali dalam mengamati
sesuatu, bagian-bagiannya dapat ditangkap dan apa yang dilihatnya dapat
diuraika secara obyektif.
Perhatian Fluktuatif (Bergelombang) ialah Orang yang
umumnya dapat memperhatikan bermacam-macam hal sekaligus, tetapi kebanyakan
tidak saksama.Perhatiannya sangat subyektif sehingga melekat pada hal-hal yang
dirasa penting bagi dirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian
Ada beberapa
faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian. Sebuah perhatian tidak timbul begitu
saja pada diri seseorang. Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi perhatian menurut Abu Ahmadi (2003) sebagai berikut:
1.
Pembawaan
Adanya pembawaan tertentu yang
berhubungan dengan objek yang direaksi, maka sedikit atau banyak akan timbul
perhatian terhadap objek tertentu.
2.
Latihan dan
Kebiasaan
Meskipun dirasa tidak ada bakat
pembawaan tentang suatu bidang, tetapi karena hasil daripada latihan-atihan
atau kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang
tersebut.
3.
Kebutuhan
Adanya kebutuhan tentang sesuatu
memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut. Kebutuhan merupakan
dorongan, sedangkan dorongan itu mempunyai tujuan yang harus dicurahkan kepadanya.
4.
Kewajiban
Kewajiban mengandung tanggung jawab
yang harus dipenuhi oleh orang yang bersangkutan. Bagi orang yang bersangkutan
dan menyadari atas kewajibannya, maka orang tersebut tidak akan bersikap masa
bodoh dalam melaksanakan tugasnya, oleh karena itu orang tersebut akan
melaksanakan kewajibannya dengan penuh perhatian.
5.
Keadaan Jasmani
Keadaan tubuh yang sehat atau tidak,
segar atau tidak, sangat mempengaruhi perhatian seseorang terhadap sesuatu
objek.
6.
Suasana Jiwa
Keadaan batin, perasaan, fantasi,
pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatian seseorang, mungkin dapat
membantu, dan sebaliknya dapat juga menghambat.
7.
Suasana di Sekitar
Adanya bermacam-macam perangsang di
lingkungan sekitar, seperti kegaduhan, keributan, kekacauan, temperatur, sosial
ekonomi, keindahan, dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian individu.
8.
Kuat tidaknya
Perangsang
Seberapa kuat
perangsang yang bersangkutan dengan objek itu sangat mempengaruhi perhatian
individu. Kalau objek itu memberikan perangsang yang kuat, maka perhatian yang
akan individu tunjukan terhadap objek tersebut kemungkinan besar juga.
Sebaliknya kalau objek itu memberikan perangsang yang lemah, perhatian juga
tidak begitu besar.
Jadi banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi perhatian seseorang
terhadap orang lain, meliputi pembawaan, latihan, kebiasaan, kebutuhan,
kewajiban, keadaan jasmani, suasana jiwa, suasana lingkungan sekitar, kuat atau
tidaknya rangsangan yang dapat menimbulkan perhatian.[4][5]
Minat dan Perhatian
Minat dan perhatiaan pada umumnya dianggap sama/ tidak ada perbedaan. Minat
(interesse) adalah sikap jiwa seorang termasuk ketiga fungsi jiwanya
(kognisi, konasi, emosi), yang tertuju pada sesuatu, dan dalam hubungan itu
unsur perasaan yang terkuat.
Perhatiaan adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek
tertentu. Di dalam gejala perhatian, ketiga fungsi jiwa tersebut diatas pun
juga ada, tetapi unsur pikiranlah yang terkuaat pengaruhnya.[5][6]
Minat ialah sesuatu pemusatan perhatiaan yang tidak disengaja yang terlahir
dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungannya.[6][7]
Syarat-syarat
Perhatian agar Mendapat Manfaat
1) Inhibisi
yaitu pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan, atau
menghalang-halangi masuk kedalam lingkungan kesadaran.
2)
Appersepsi yaitu pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk
tanggapan,pengertian dan sebagainya yang telah dimiliki dan bersesuaian/
berhubungan dengan obyek pengertian.
3)
Adaptasi yaitu penyesuaian diri antara
subyek dan obyek.
Kalau ketiga
syarat tersebut (inhibisi, appersepsi dan adaptasi) dapat dipenuhi, maka
cukuplah perhatian seseorang terhadap sesuatu, akibatnya pekerjaan yang
dilakukan baik dapat berjalan dengan baik tanpa gangguan.
Beberapa
Peristiwa dalam gejala Perhatian
1. Perseverasi (Menahan)
Peristiwa ini terjadi kalau seseorang sangat terikat
perhatiannya pada suatu objek tertentu, sehingga sukar melepaskan perhatiannya
dari objek tertentu.Karena sangat tertarik pada objek tersebut maka sekalipun
bermunculan objek baru, objek baru itu tidak akan menarik perhatiannya.
2. Adaptasi
Peristiwa kejiwaan ini bertentangan dengan perseverasi.
Perhatian ini tidak terikat pada suatu objek saja tetapi selalu
berpindah-pindah dan mudah mnyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan
baru.Peristiwa Adaptasi umumnya berlangsung pada orang yang mempunyai perhatian
lunak.
3. Osilasi
Yakni keadaan perhatian yang tidak tetap, timbul
tenggelam, kuat kendur dan sering terputus-putus. Misalnya seseorang yang
mendengarkan ceramah tentang pelita dan modes. Semula perhatiannya cukup besar,
Setelah selesai ternayta ada bagian yang tak tertangkap.Hilangnya bagian-bagian
yang tak tertangkap itu berbarengan dengan terputusnya perhatian orang terhadap
ceramah tersebut.
4. Perhatian Bergerak
Peristiwa ini perhatiannya berserakan, seakan-akan tidak
mempunyai perhatian sama sekali terhadap apa saja baik tentang dirinya maupun
terhadap apa yang ada disekitarnya. Peristiwa ini sebagai akibat dari adanya
perseverasi.
Jenis-jenis Perhatian
Perhatian dapat dibedakan menurut bentuk dan sifatnya. Masing-masing
pembedaan itu sebagai berikut :
Menurut bentuknya, perhatian dibedakan atas :
1. Perhatian
sengaja yaitu jenis perhatian yang terjadi apabila individu ingin menyaring
secara kuat dan ingin menangkap kesan lebih jelas.
2. Perhatian
tidak sengaja yaitu jenis perhatian dalam mana tidak ada usaha sadar dari
individu untuk memusatkan perhatiannya pada suatu penginderaan tertentu, tetapi
indera secara tidak sengaja terpusatkan pada bagian-bagian indera tertentu.
3. Perhatian habitual yaitu
kecenderungan individu untuk memusatkan perhatiannya pada hal-hal tertentu
dalam setiap keadaan lingkungan dengan meninggalkan perangsang-perangsang
lainnya.
Menurut sifatnya, perhatian dibedakan atas :
1. Perhatian
spontan langsung atau direct dan perhatian paksaan yaitu jenis perhatian yang
tidak sengaja, individu merasa senang terhadap obyek yang diamati.
2. Perhatian
konsentratif dan perhatian distributif, mengacu pada obyek yang diamati.
3. Perhatian
sempit dan perhatian persevatif.
Penyimpangan
Perhatian (In-attention)
Penyimpangan
Perhatian Merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang pada suatu tertentu,dimana perhatiannya ditunjukkan
hal-hal lain,sehingga tidak sesuai dengan peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung.
Terbentuknya penyimpangan perhatian didorong oleh faktor internal sesaat
individu dalam keadaan lapar, lelah dan sebagainya.
Beberapa cara
dalam mengatasi gangguan perhatian antara lain:
1. Memperkuat Motivasi
2. Memperkuat usaha dalam menjalankan suatu tugas
Beberapa
petunjuk penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan masalah konsentrasi
dan perhatian antara lain:
a) Singkirkan dan hindari sebanyak mungkin
kejadian-kejadian yang mengakibatkan terpecahnya perhatian dan minat.
b) Kerjakan satu tugas saja, Konsentrasikan segenap
minat dan perhatian pada penunaian tugas.
c) Sukses pada suatu usaha memberikan rangsangan
untuk mencapai sukses dalam usaha lainnya.
d) Memiliki
pengetahuan siap yang cukup dan mempergunakan pengalaman-pengalaman masa lampau
untuk memecahkan masalah-masalah baru (proses transfer of learning).
e) Bersikaplah tenang, hati-hati dan selalu
waspada.
f) Perbesarlah kemampuan adaptasi, agar bias
lebih peka terhadap perubahan situasi dengan segenap permasalahannya,sehingga
bias memecahkan setiap permasalahan dengan cara yang sehat.
g) Singkirkan hambatan-hambatan emosional dalam
usaha pengkonsentrasian diri dan pencurian minat.Misalnya, rasa enggan, takut,
cemas, minder dan lainnya.Sebab hambatan dan gangguan emosional itu dapat
membuat seorang yang menjadi pemimpin yang enggan bekerja.
B.
KELELAHAN
Pengertian
Kelelahan (Fatigue)
Pengertian
Kelelahan secara sempit memang hanya sebats lelah fisik yang dirasakan saja.
Hal ini dikarenakan setiap orang yang merasakan kelelahan hanya terbatas pada
keluhan-keluhan fisik yang mereka rasakan saja.
Kelelahan
adalah perpaduan dari wujud penurunan fungsi mental dan fisik yang menghasilkan
berkurangnya semangat kerja sehingga mengakibatkan efektifitas dan efisiensi
kerja menurun (saito,1999).
Menurut kroemer
1997, kelelahan merupakan gejala yang ditandai adanya perasaan lelah dan kita
akan mersa segan dan aktifitas akan melemah serta ketidakseimbangan pada
kondisi tubuh. Kelelahan mempengaruhi kapasitas fisik, mental dan tingkat
emosional seseorang, dimana dapat mengakibatkan kurangnya kewaspadaan, yang
ditandai dengan kemunduran reaksi pada sesuatu dan berkurangnya kemampuan
motorik.
Gejala Kelelahan pada Manusia
Sejak lahir
sampai menjelang meninggal dunia manusia mempunyai dorongan –dorongan untuk
bergerak dan melakukan bermacam-macam kesibukan.
Gerak-gerak
yang dlakukan itu tidak sama bentuk dan tingkatannya, ada yang beruspa
gerak-gerak reaksi, disusul gerak kaki dan tangan, merangkak, berjalan,
berlari, dan ada pula kesibukan-kesibukan bekerja, kesemuanya membutuhkan
kekuatan dan kemampuan.
Semua gerak dan
kesibukan itu mempunyai arti bagi manusia. Tetapi pada suatu saat kekuatan
untuk berbuat itu makin lama makin berkurang. Berkurangnya kekuatan bergerak
(baik jasmani maupun rohani), akan member pengaruh mengurangkan
prestasi-prestasi yang akan dicapai. Gejala berkurangnya manusia untuk melakukann
sesuatu disebut kelelahan/keletihan/kelesuan/kepenatan.
Sebaliknya kita
mengetahui juga, bahwa tenaga manusia itu ada batasnya.Batas itulah yang
menunjukkan datangnya keletihan.Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, orang
melakukan kerja jasmani dan rohani. Karena sesuatu kesibukan maka sampailah
orang pada batas kekuatannya dan saat itu tibalah keadaan lelah.
Sebenarnya
kelelahan itu adalah sesuatu keadaan atau kondisi, baik kondisi jasmani maupun
kondisi psikis, bukan suatu dorongan tertentu.Namun demikian kelelahan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Karena alasan itulah
maka kelelahan dimasukkan didalam gejala campuran.[7][8]
Sistem
penggerak Kelelahan
Kelelahan
diatur secara terpusat oleh otak.Terdapat struktur susunan syaraf pusat yang
berperan penting dalam mengontrol fungsi secara luasdan konsisten yaitu reticular formation atau penggerak pada
medulla yang berfungsi meningkatkan dan mengurangi sensitivitas dari cortex cerebri . Cortex cerebri berfungsi sebagai pusat kesadaran meliputi persepsi,
perasaan subjektif, refleks dan kemauan. Keadaan dan perasaan lelah merupakan
reaksi fungsional dari fusat kesadaran yang dipengaruhi oleh system penghambat
(inhibisi) dan system penggerak (aktivasi) yang saling bergantian. Sistem penghambat
terdapat dalam thalamus yang bekerja menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan
mengakibatkan kecenderungan untuk tidur, Sedangkan system penggerak terdapat di
formation retikularis yang dapat
merangsang tubuh untuk bekerja, berkelahi, melarikan diri dan lainnya.Keadaan
seseorang sangat bergantung kepada hasil kerja dua system tersebut. Apabila
system penghambat lebih kuat, seseorang akan berada pada kelelahan.Sebaliknya,
apabila system aktivasi lebih kuat seseorang maka akan dalam keadaan segar untuk
melakukan aktivitas. Kedua sistem harus berada dalam kondisi yang memberikan
stabilitas kepada seluruh tubuh, agar tenaga kerja berada dalam keserasian dan
keseimbangan.
Sebab-sebab
Kelelahan
Kelelahan
disebabkan karena berlangsungnya suatu aktifitas atau pekerjaan, baik aktifitas
jasmani maupun rohani. Maka ada kemungkinan:
1. Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jasmani,
misalnya : mencangkul, berolahraga, berjalan jauh, memikul berat, bersepeda dan
sebagainya.
2. Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jiwa,
misalnya memikirkan masalah–masalah yang pelik, lama berkonsentrasi,
mengerjakan soal-soal hitungan, membaca terlalu lama dan sebagainya.
Macam-macam
kelelahan
1. Kelelahan Jasmani : Kalau kekuatan jasmani
berkurang, sehingga tidak dapat melakukan sesuatu dengan semestinya, maka orang
itu mengalami kelelahan jasmani.
2. Kelelahan Rohani : Kalau kekuatan jiwa
berkurang, sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan psikis dengan semestinya,
maka orang itu dikatakan mengalami kelelahan rohani atau kelelahan jiwa.
Di samping kelelahan fisik, kita juga
mengenal kelelahan psikis. Pada kelelahan psikis sering muncul gejala lemas
bagaikan habis terkuras tenaga, dan muncul gangguan dalam funsi-fungsi psikis,
misalnya berkurangnya daya konsentrasi dan minat, hilang daya ingatan, cepat
lupa dll. Kelelahan otot tidak ada, akan tetapi lebih banyak muncul gejala
nerveus dan sakit kepala.
Gejala kelelahan dikelas tampak nyata dengan penampilan sebagai berikut:
orang / anak-anak menjadi gelisah, bergerak kian kemari, kaki digeser-geserkan,
tangan digerak-gerakan menjadi tidak sabaran, menjadi ribut dan sukar
dikendalikan, tiddak berminat, berulang-ulang melihat jam, dll.
Hubungan
kelelahan Jasmani dan Kelelahan Rohani
Manusia adalah
suatu psiko-somatis, selamanya tidak dapat diadakan pemisahan antara jiwa dan
raganya.Oleh karena itu kelelahan jasmani tidak dapat dipisahkan pula dengan
kelelahan rohani, dan sebaliknya. Hal-hal yang mungkin terjadi:
1. Baik Kelesuan Jasmani maupun Rohani dirasakan
oleh seluruh pribadi.
2. Pekerjaan Jasmani dapat menimbulkan kelelahan
Rohani
3. Pekerjaan Rohani dapat menimbulkan kelelahan
Jasmani
4. Kelelahan Jasmani dapat mengurangi kegiatan jiwa
dan jasmani.
Dengan singkat
dapat dikatakan bahwa antara Jasmani dan Rohani, antara Kelesuan Jasmani dan
Kelesuan Rohani mempunyai hubungan timbale balik dan saling mempengaruhi.
Pendapat-pendapat
tentang kelesuan
Teori Inteksinasi (into = intra =dalam;
toxicun = racun)
Inteksinasi berarti didalam badan kita telah terdapat
atau terjadi racun yang dapat menimbulkan kelesuan.Teori Inteksinasi termasuk
teori lama. Pokok-pokok teori tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :
Tubuh kita bekerja, didalam tubuh kita terjadi pertukaran
zat, peredaran darah dan
pembakaran.Karena pertukaran zat, peredaran darah dan
pembakaran itu timbullah berbagai benda sisa atau “ampas”. Sisa-sisa pembakaran
itu masuk kedalam peredaran darah dan akhirnya masuk kedalam susunan urat
syaraf. Disinilah benda-benda itu menyebabkan terbentuknya semacam benda berbisa
atau beracun.Inilah yang menimbulkan rasa lesu, baik Jasmani maupun Rohani,
baik setempat maupun seluruh tubuh.
Teori Biologis
Tokohnya : Thorndike. Teori ini termasuk teori baru yang
mencari sebab-sebab kelesuan dari hukum-hukum hidup manusia.
Thorndike menunjukkan 2 peristiwa yang terjadi pada
manusia. Apabila ia bekerja agak lama, aan terjadi:
a. Pengurangan tenaga pada kita, pengurangan tenaga
itu menyebabkan timbulnya gejala kelesuan.
b. Perasaan bosan, pekerjaan dalam waktu lama makin
lama makin menimbulkan perasaan bosan.
Kebosanana dapat menghambat kemajuan pekerjaan. Karena
kebosanan berkuranglah perasaan puas pada pekerjaan . Hal ini dirasakan juga
sebagai kelesuan/kelelahan.
Usaha-Usaha
Menghilangkan Kelelahan
Cara
menghilangkan rasa lelah pada umumnya orang beristirahat atau menghentikan apa
yang dijalankan. Tentang menghentikan aktivitas sudah tentu harus disesuaikan
dengan jenis aktivitasnya.
1. Menghentikan pekerjaan jasmani untuk
menghilangkan kelelahan jasmani.
2. Menghentikan pekerjaan rohani untuk
menghilangkan kelelahan rohani
Disamping
cara-cara tersebut, tentang istirahat ini masih ada beberapa kemungkinan,
1. Untuk menghilangkan kelelahan jasmani, cukuplah
kiranya kalau orang menghentikan pekerjaan yang dilakukan, duduk-duduk, tidur
dan sebagainya.
2. Untuk menghilangkan kelelahan rohani
kadang-kadang orang tidak cukup menghentikan pekerjaan yang dilakukan, tetapi
kadang-kadang orang tidak perlu menghentikan sepenuhnya pekerjaan / berpikir
yang dilakukan.
Misalnya: berjalan-jalan, menonton film, bersenda gurau
dan sebagainya. Dengan cara demikian biasanya kelelahan jiwa dapat hilang dan
kembali kuat dan segar.
Maka iklim pendidikan dan suasana kerja perlu dilengkapi antara lain dengan
persyaratan sebagai berikut :
1. Adanya
ventilasi yang baik, hawa udara segar bisa masuk, penerangan lampu yang cukup,
dan bangku/kursi yang nyaman pas.
2.
Menyediakan waktu-waktu istirahat dan waktu libur yang cukup sepanjang tahun.
3. Pelajaran dan tugas-tugas pekerjaan yang sulit dan berat, hendaknya
diletakkan pada pagi hari / awal jam pelajaran dan pekerjaan yang lebih mudah
diletakkan pada siang/ petang hari.
4. Adanya
pengajar / pendidik yang simpatik,
dengan suaranya yang lancar, dan menimbulkan senang dihati. Sebab suara yang
tinggi melengking / banyak lamban menjemukan dan monoton, akan cepat melelahkan
pendengarannya.
C.
SUGESTI
Pengertian sugesti
Sugesti (saran), ialah pengaruh terhadap jiwa dan tigkah laku seseorang
dengan maksud tertentu, sehingga pikiran, perasaan dan kemauan terpengaruh
olehnya, dan menuruti saja pengaruh tersebut, tanpa dengan pemikiran atau
pertimbangan lebih dahulu.
Sugesti adalah pengaruh yang berlangsung terhadap kehidupan yang psikis dan
segenap perbuatan kita, dengan mana perasaan , pikiran dan kemauan kita sedikit
/ banyak dibatasi oleh karenanya. Orang-orang yang mudah terkena sugesti
disebut sugestibel, dan mereka yang memiliki daya pengaruh terhadap orang lain
disebut sugestif.
Otosugesti adalah sugesti yang keluar dari diri sendiri. Otosugesti itu
mempunyai pengaruh yang besar sekali tehadap sukses atau gagalnya usaha kiat.
Kecemasan dan ketidakpercayaan diri misalnya, memeberikan pengaruh sugestif
yang melelahkan pada pribadi. Sebaliknya optimisme dan kepercayaan diri memberi
sugesti yang poositif pada keberhasilan suatu pekerjaan.
Keadaan dimana seseorang sangat peka terhadap sugesti ialah dalam keadaan
hipnosia. Hipnosia adalah kondisi yang mirip sekali dengan tidur, namun tetap
disertai dengan unsur konsentrasi dan perhatian, dengan mana orang yang
bersangkutan terbuka sekali bagi sugesti-sugesti yang diberikan oleh hipnotiseu
(yang menhipnotisir), dan tidak peka terhadap perangsang-perangsang lainnya.
Sugesti mempunyai arti yang besar dalam pemestian dan fakta sosial,
misalnya di sekolah-sekolah, bidang perguruan, di balai pengadilan bidang
pemerintahan, penentuan keputusan, dll. Individu-individu yang bersangkutan
akan tersugerir oleh nasehat-nasehat, informasi-informasi lisan, tulisan
disurat kabar, ucapan saksi, dll. Betapapun besarnya pengaruh sugesti ini pada
orang lain, namun tetap saja ada batas pengaruhnya. Agar supaya sugesti-sugesti
itu diterima, diperlukan adanya psikis yang sama, yaitu pikiran dan perasaan
yang kurang lebih sejenis dalam kehidupan sendiri, sama dengan milik pemberi
sugesti.
Semua jenis pekerjaan bisa diperingan oleh sugesti-sugesti yang positif.
Maka kemampuan memberi sugesti yang positif ini dimasukan dalam kategori untuk
seni mengajar dan seni memimpin. Yaitu seni untuk membangkitkan gairah kerja
dan gairah belajar, menciptakan suasana yang menggembirakan, penuh harapan,
menimbulkan minat, dll. Namun hendaknya diusahakan agar anak didik tidak
bergantung pada sugesti-sugesti ini.
Sugesti tersebut masih perlu diberikan selama anak atau orang dewasa yang bersangkutan
belum mampu memilih jalan hidupnya sendiri, dan memerlukan bimbingan. Dengan
begitu, sugesti juga bisa dimanfaatkan untuk pendidikan kemauan dan pemupukan
dan pemilihan motivasi. Lambat laun, sugesti-sugesti ini perlu dikurangi, agar
orang sampai pada pikiran sendiri, wawasan / insight sendiri keyakinan sendiri
dan tanggung jawab sendiri.
Alat-alat sugesti, Seperti ;
1. Pandangan mata. Misalnya dengan pandangan mata yang menyala atau
meredup orang dapat mencapai apa yang dikehendaki, meskipun orang yang
dipandang itu merasa terpikat atau terpaksa.
2. Dengan suara (kata-kata). Misalnya dengan kata-kata yang merayu
atau kata-kata kasar seseorang dapat pula menuruti kehendaknya.
3. Dengan air muka. Orang dapat seakan memaksa seseorang menuruti kehendaknya,
bila ia mempergunakan air mukanya. Misalnya dengan muka berseri, senyum, merah
padam, kecut, sinis dan lain-lainnya.
4. Dengan suriteladan, sesungguhnya orang tidak
perlu memrintahkan sesuatu dengan kasar, keras bahkan dengan ancaman kalau ia sendiri
tidak menjalankan apa yang diperintahkan.
5. Dengan gambar. Dengan teknik reklame. Misalnya seseorang lekas
terpengaruh dengan gambar bintang film, kemudian menonton.
6. Dengan semboyan. Ini misalnya yang dipergunakan dalam memperbuat
usaha yang besar. Misalnya dalam usaha merebut kemerdekaan kita bersemboyan
merdeka atau mati.
Orang yang mengsugesti disebut sugestif. Dan orang yang mudah disugesti
disebut sugestibel.
Sugesti dan
Sugestibel
1.
Sugesti adalah sesuatu yang mempunyai pengaruh sugesti yang besar. Orang yang
sugestif ialah orang yang mempunyai pengaruh besar (orang yang mensugesti).
2. Sugestibel adalah sifat-sifat yang mudah kena
saran atau sugesti. Orang yang mudah kena pengaruh sugesti disebut orang yang
sugestibel. Orang yang sugestibel tidak cukup mampu member
pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan tentang sesuatu.Biasanya
sifat ini terdapat pada anak-anak kecil yang kurang perhatian, orang yang
kurang pengalamannya dan orang yang tidak terpelajar.
Sugesti tidak selalu datang dari orang lain. Banyak yang datang dari diri
sendiri. Dan itu disebut dengan auto sugesti. Ini berguna untuk memberi cambuk
supaya tidak lekas putus asa. Dan biasanya dapat memberi kepuasan dalam
mengusahakan sesuatu. Misalnya :
1. Dalam menghadapi hidup yang sulit, orang tersebut harus bisa
meyakinkan dirinya bahwa usahanya akan berhasil. Misalnya “ Aku akan berhasil”.
2. Sudah beberapa jam anak itu tidak menyelesaikan soal
stereometri itu, lalu ia berbisik kepadanya sendiri, sebentar lagi sampai. Dsb.
Syarat-syarat yang memudahkan sugesti itu terjadi yaitu :
1. Sugesti karena hambatan berfikir.
2. Sugesti karena mayoritas.
3. Sugesti karena ingin keinginan untuk meyakini dirinya sendiri.
Manfaat sugesti dalam pendidikan
1. Dengan sugesti anak yang
malas, yang menderita rasa harga kurang dan anak yang hampir putus asa, dapat
menjadi seha, dengan sugesti yang positif.
2. Terutama dengan autosugesti, anak dapat mengalami sesuatu semangat
yang baru baginya. Ia menyadari kekuatannya, kelebihannya, dan sebagainya.
3. Denga suara yang lemah lembut, sinar mata yang jernih, roman
muka yang berseri dan bujukan yang manis, guru bisa lebih berhasil mencapai
maksudnya.
Sugesti ini sering dipakai untuk :
1. Pengobatan oleh dokter atau dukun.
2. Demonstari-demonstrasi.
3. Rapat-rapat raksasa.
4. Pada diri sendiri (autosugesti).
5. Pada pemeriksaan terdakwa.
6. Sekolah.
7. Perusahaan-perusahaan.
Peran Sugesti
Sugesti mempunyai
peran penting, baik dalam kehidupan pada umumnya, maupun di sekolah. Dengan
adanya sifat-sifat sugesti dalam kepemimpinan, maka akan terjadi:
1. Pimpinan
banyak disenangi anak buahnya.
2. Adanya
kepercayaannya besar kepada pimpinannya.
3. Pimpinan
akan dihormati, diturut dan diperhatikan segala perintahnya.
Berpengaruhnya
sugesti di dalam lingkungan sekolah akan memberi kemungkinan:
1. Anak-anak
hormat kepada pimpinan/ gurunya.
2. Anak-anak
memperhatikan pelajaran yang diberikan.
3. Anak-anak sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintah, suruhan-suruhan
yang diberikan oleh guru.
4. Nasihat-nasihat
dan petunjuk-petunjuk guru akan diturut anak-anak.
Karena besarnya peranan sugesti di dalam pergaulan, maka pelaksanaan
sugesti ini dijalankan di berbagai lapangan, misalnya: di rumah sakit, dalam
organisasi, dunia perdagangan dan sebagainya[8][9]
bahaya dari sugesti
1. Sugesti yang negative. Orang yang memberi sugesti semacam ini dapat
membunuh orang yang disugesti.
2. Sugesti
yang tidak tepat. Misalnya seorang guru yang memerintahkan kepada muridnya
dengan segala kekerasan. Sedang ia sendiri tida melakukan seperti apa yang ia
perintahkan. Guru inilah sebenarnya merusak jiwa anak.
3. Autosugesti
yang berlebih-lebihan. Dalam autosugesti kadang orang lupa kepada kesanggupan
sebenarnya yang ada padanya. Kemudian ternyata ia tidak berhasil, ia mudah
sekali masuk kelembah putus asa.
4. Masa
sugesti yang berlebih-lebihan. Para demonstrasi misalnya, berkobar-kobar rasa
binatangnya, terhadap orang yang didemonstrasi. Apabila salah seorang dari
demonstran ini berbuat sesuatu mungkin hanya pura-pura, maka seluruh demonstran
akan berbuat semacam itu yang lebih bersungguh-sungguh. Karena itulah tidak
jarang terjadi pembunuhan dalam demonstrasi-demonstrasi.
5. Sekolah
harus berusaha agar anak-anaknya dapat mengendalikan diri, supaya tidak mudah
terlibat dalam sugesti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar